Inilah 6 perawatan kecantikan yang tidak ramah lingkungan

PortalMadura.Com – Tampil cantik dan sempurna pasti butuh usaha. Salah satunya melakukan perawatan kecantikan dengan membeli produk atau mengunjungi salon kecantikan.

Namun yang kita miliki sekarang adalah banyak produk atau perawatan kecantikan yang berdampak negatif terhadap lingkungan. Seperti limbah pembalut sekali pakai, serta produk krim tabir surya yang dilaporkan mencemari air laut dan merusak terumbu karang. Hal ini tentu saja merusak lingkungan.

Oleh karena itu, Anda perlu mengetahui rutinitas perawatan kecantikan yang dapat merusak lingkungan. Sebagaimana dilaporkan PortalMadura.Com dari halaman liputan6.com, berikut beberapa perawatan kecantikan yang berdampak negatif bagi lingkungan.

Tata Rias Teruji Hewan

Ada beberapa merek makeup yang menguji produknya pada hewan. Tes ini dimaksudkan untuk melihat efek samping yang terjadi saat bahan tertentu dioleskan ke kulit.

Tes ini sebenarnya tidak terlalu diperlukan karena ada sejumlah merek kecantikan yang diklaim bebas dari uji hewan. Sebagian besar hewan yang menjadi sasaran percobaan biasanya berakhir dengan kematian setelah tahap pengujian, salah satunya karena sesak napas.

Menggunakan pisau cukur sekali pakai

Pisau cukur sekali pakai hanya dapat digunakan selama satu hingga tiga minggu dan harus segera dibuang. Artinya dalam satu bulan Anda harus menggunakan setidaknya dua pisau cukur dan kemudian berakhir di tempat sampah. Ada 163 juta penduduk Amerika Serikat yang mengaku menggunakan pisau cukur sekali pakai.

Benda tersebut merupakan salah satu benda yang nantinya akan menjadi sampah non biodegradable yang dapat merusak lingkungan sekitar. Sehingga penggunaannya perlu dibatasi penggunaannya atau beralih ke cara lain yang lebih ramah lingkungan.

Mengenakan banyak cotton bud

Layaknya pisau cukur, kapas merupakan barang sekali pakai yang terbuang percuma dan berdampak buruk bagi lingkungan. Kuncup kapas merupakan benda yang dapat mencemari lingkungan khususnya daerah pesisir.

Jika hewan laut mengkonsumsi cotton bud sebagai makanannya, maka akan berdampak negatif pula bagi kesehatan semua makhluk hidup di dunia, termasuk manusia. Semakin banyak digunakan, semakin besar dampaknya setiap hari.

Penggunaan Microbeads Exfoliator

Microbeads exfoliator merupakan kumpulan potongan plastik kecil yang biasanya terdapat pada produk perawatan kulit, seperti scrub, exfoliator, dan lainnya. Bahannya mungkin terasa enak di kulit Anda, tetapi bisa berdampak buruk bagi satwa liar.

Manik-manik plastik ini terlalu kecil untuk melewati penyaringan pusat pengolahan air limbah. Artinya, materi ini akan berakhir di danau atau lautan tempat makhluk hidup hidup dan mencari makan. Plastik ukuran kecil ini dapat dihirup atau dikonsumsi oleh hewan laut.

Sabun cair

Sejak ada sabun cair, banyak orang yang mulai beralih dari sabun batangan karena lebih praktis penggunaannya. Sabun cair diperkenalkan oleh William Shepphard pada tahun 1865 dan menjadi populer pada akhir 1980-an.

Sayangnya, produk sabun cair memiliki efek yang lebih buruk daripada sabun batang. Sabun cair memiliki jejak karbon 25 persen lebih besar daripada sabun batangan.

Pasalnya, proses pengemasan lebih kompleks dan membutuhkan lebih banyak energi, serta jumlah pemakaian sehari-hari mungkin tidak terkontrol. Jejak karbon yang dihasilkan dapat berdampak negatif bagi bumi dan beberapa dampak, antara lain kekeringan, berkurangnya sumber air bersih, dan kerusakan lingkungan lainnya.

Perendaman Terlalu Lama

Bagi Anda yang suka berendam di bathtub, mungkin inilah saatnya untuk mempertimbangkan kebiasaan ini. Ini memang bisa dijadikan cara bersantai usai menjalani rangkaian aktivitas menguras tenaga, namun sayangnya hanya menghasilkan pemborosan air.

Semakin lama Anda mandi, semakin banyak air yang akan mengalir. Jumlah air bersih yang digunakan dapat menjadi masalah besar bagi spesies di seluruh dunia karena jumlah air yang berkurang dan dapat menyebabkan kematian. Banyak alternatif yang bisa dilakukan untuk mengurangi limbah dan limbah yang dapat mencemari lingkungan dari produk kecantikan.

Sebaiknya beralih ke produk kecantikan yang lebih ramah lingkungan, minimal meminimalkan bahaya pencemaran lingkungan. Karena untuk merawat kulit dan menjaga kecantikan tidak harus berdampak buruk bagi lingkungan.

PortalMadura.com – Berita Madura Terbaru